setiap saat, setiap waktu, di saat-saat muncul ide-ide, keinginan untuk mengekspresikan ide tersebut senantiasa muncul. lalu tergeraklah jemari buat menuntaskan keinginan yang mendesak-desak. kadang kala hasrat itu membuat sesak nafas, melemahkan aliran darah dan hampir membuatku mati suri bila tak segera terlampiaskan. di tempat inilah aku bisa senantiasa mencurahkan segala keinginan untuk bisa tetap eksis dalam mencari jati diri.
Labels
- aku ingin (4)
- artikel (17)
- catatan harian (2)
- catatan perjalanan (12)
- cerita pendek (7)
- edukasi (2)
- flowers (2)
- karya tulis (1)
- karyaku (6)
- kesehatan (6)
- kumpulan puisi (2)
- mata lensa (15)
- novel (3)
- puisi (4)
- puisiku (8)
- resep masakan (4)
Sunday, March 22, 2020
Friday, October 4, 2019
Wajah Senja
Senja yang selalu hadir dengan wajah yang berbeda-beda. Lukisan alam ciptaan Yang Maha Kuasa. Senja sore ini, berbeda dengan senja sore lalu, atau senja yang akan hadir esok hari, atau lusa. Kehadirannya selalu tepat waktu, tak pernah lena. Wajahnya selalu sumringah dengan paduan warna jingga, kuning, merah. Walau ada kalanya senja hadir sedikit murah, karena wajahnya terhalang awan.
Thursday, October 3, 2019
Wednesday, March 7, 2018
cerita pendek
WANITA YANG PALING KUBENCI
Murmiyati
Hadi Santoso
“Ayo bangun… ini sudah di sekolah.”
Suara yang lembut itu menyentuh
gendang telingaku. Disertai tepukan di pundak kanan beberapa kali. Tepukan yang
lembut. Aku seperti dininabobokkan kembali. Tepukan itu berulang di punggung kiriku.
“Bangun Nak… ayoo bangun dulu…”
Kembali suara lembut itu
membisik di telinga. Kurasakan
pijatan yang lebih kuat di pundak kananku.
Sakit. Kutegakkan badan. Tawa cekikikan terdengar di sana-sini.
“Dasar tukang tidur.”
Mata ini berat untuk membuka. Kupaksa untuk melek. Sinar yang tertangkap membuat
mataku kriyip-kriyip.
“Cuci muka dulu Fahri.”
Sebuah perintah yang menyihir.
Seperti boneka, aku berjalan keluar menuju kamar kecil untuk cuci muka berlama-lama. Kelopak mata ini seperti ada pemberatnya.
Kembali masuk ke ruang kelas. Kembali
pada kegiatan semula. Belajar bahasa.
Suaranya yang merdu itu kian sayup. Mata ini tak mau diajak kompromi. Melekat erat. Maklum,
semalam aku pulang jam tiga dini hari. Karena kami, aku, Irvan dan Evan baru
saja uji nyali, semalaman di petilasan Raden Rangga yang menurut berita sangat
angker.
“Bangun Nak, masih pagi.” Sebuah tepukan di pundak mengganggu nyenyakku.
“Ayo Nak, bangun dulu.” Suara lembut itu kembali terdengar.
Aku merasa kaki kananku pegal sekali. Kucoba luruskan, menyentuh kaki
meja dan menimbulkan bunyi. Aku menggeliat.
“Bangun… bangun… sudah siang…”
Suara-suara yang memintaku bangun bersahutan.
“He bangun, mau sekolah apa tidur sih?”
“Kalau Cuma tidur pulang aja!” suara cempreng itu kembali terdengar.
“Bangun Nak….”
Suaranya kembali terdengar. Tangannya memijit pundak kananku. Kuenyahkan
tangannya dengan gerakan kasar.
Kucoba buka mataku. Semua siswa memandangku dengan berjuta tatapan mata,
menuduh. Seorang wanita bertubuh tinggi semampai berkaca mata memandangku
dengan senyuman. Benci rasanya aku melihatnya. Dibalik tatapannya itu, aku
melihat seringai serigala.
“Aku nggak suka ditegur berulang-ulang.” Teriakku.
“Kamu marah Nak?”
Pertanyaan yang sinis. Aku menatapnya garang. Dia tetap dengan
senyumannya.
“Baiklah, Ibu tak akan menegurmu lagi.”
Kelas jadi sunyi. Wanita itu menatap semua siswa. Satu per satu. Seperti
ingin mendalami isi hati mereka semua. Kulihat siswa lain menatapku janggal.
Hening.
“Mari kita lanjutkan pembahasan ya Nak.”
Keheningan itu terkoyak oleh suaranya yang lembut namun penuh wibawa.
Senyumnya tetap menghias bibirnya yang tipis. Aku merasa senyuman itu seperti
mengejekku, melecehkanku. Tak sekalipun dia menatapku kembali. Melirikpun
tidak.
Wanita itu kembali mengutak utik
mouse. Semua menatap layar, tayangan itu
menyilaukanku. Silau… ya sangat silau.
Kupejamkan kembali mataku. Masih terasa sinar dari layar menembus kelopak mata.
Sinar itu membentuk bayang-bayang. Sebuah siluet, yang semakin lama
semakin jelas. Seekor kuda yang gagah
berwarna coklat kehitaman, berlari kencang kearahku. Berlari kencang, meninggalkan
debu-debu menggulung di belakangnya. Aku mencoba menyisih dari lintasan. Kakiku
berat untuk melangkah. Seluruh tenagaku
hilang lenyap. Aku terpuruk. Lari kuda itu semakin dekat. Kulihat jelas bentuk
kaki yang kokoh, paha yang kuat, saling berebut melangkah. Debu
bergulung-gulung. Telapak kaki kuda itu serasa hendak menyentuh wajah. Kutekuk
wajahku, menunggu kaki kuda itu melintas di mukaku, menginjak keras tubuhku
yang tanda daya. Tengkukku dingin. Tak ada suara lain yang terdengar. Kututup
mataku. Kututup telingaku. Aku menunggu.
Kudengar jelas hentakan kaki
kuda di telinga. Saat itu pula kurasa sebuah tangan menggapai lenganku.
Mencengkeram pundak dengan keras. Menyeretku berlari kencang. Tubuhku
terombang-ambing, terbentur-bentur. Perih,
ngilu. Aku meronta. Menggapai apa yang aku bisa. Memegang apa yang bisa
kupegang. Tangan kananku menyerang membabi buta. Menyentuh yang bisa kusentuh.
Aku merasa ranting yang kupegang mengenai sesuatu. Kudengar sebuah keluh.
Keriuhan terdengar dimana-mana. Suara menjerit-jerit melengking di
telingaku. Aku merasa keringat menetes di punggung ku.
“Fahri… jangan…”
“Hentikan Fahri… berhenti.”
“Tolong… tolong… tolong…”
“Fahri… brenti..”
“Dasar anak nggak tau diuntung.”
Aku seperti mengenal suara-suara itu. Dua pasang tangan mengunciku.
“Irfan… hati-hati… cutter ditangan.”
Aku meronta-ronta berusaha melepaskan diri. Genggamanku kian erat.
“Fahri… sadar Fahri… sadar….”
Kucoba membuka mata. Silau. Kembali kudapati wajah wanita itu. Diantara
kerumunan para siswa, dengan wajah-wajah yang penuh rasa ingin tahu.
Allohu Akbar… Allohu Akbar…
Sayup-sayup suara adzan berkumandang. Tangan kananku bergetar. Cutter
kecil di tanganku terjatuh. Kupandangi wajah wanita yang ada di hadapanku. Tatapan matanya masih teduh. Sesak dadaku. Masih
seperti dulu. Sama seperti pertama kali aku bertemu dengannya. Warna merah
melumuri seluruh lengannya. Pangkal lengannya menganga. Darah menetes-netes
dari ujung jarinya. Aku luruh, di kaki wanita yang paling kubenci. Istri
ayahku.
Edukasi
Masa Mencoreng
Murmiyati Hadi Santoso
“Ma… tulis-tulis…” kata seorang
anak usia dua-tiga tahunan sambil mendekati ibunya.
“Ya sayang… sebentar ya?” jawab
sang ibu yang masih asyik mengiris-iris wortel.
“Mama… tulis-tulis…” kata anak
itu lagi.
“Nanti ya? Mama selesaikan masak
dulu…” sang ibu mencoba menenteramkan.
“Mama… tulis-tulis…’’ sang anak
mulai merengek.
Mendengar anandanya merengek
sang ibu mengambilkan spidol yang biasa digunakan anak untuk belajar menulis.
“Ini…?” kata sang ibu, sambil
menyerahkan spidol.
Kemudian dia kembali melanjutkan
kegiatannya. Mengiris wortel, menyiapkan masakan untuk makan siang. Dia merasa
tenang karena si kecil tidak lagi mengganggu. Si kecil yang sudah memegang
spidol merah dengan senang mencoba membuat goresan. Yang pertama dia lakukan di
kursi makan. Menggores-menggores…
“Mama… tulis-tulis…” si kecil
melaporkan hasil karyanya pada ibunya.
“Ya sayang…” jawab sang ibu
tanpa menengok. Tangannya baru asyik mencuci sayuran.
Si kecil melanjutkan
kegiatannya, menggores dinding. Menggores dan menggores, tanpa bentuk. Asyik
sekali dia menggores seperti mendapat kesenangan yang tidak habis-habisnya.
Agak lama sang ibu tak memperdulikan apa yang dilakukan si kecil, sampai dia
mengingatnya. Saat menengok dia masih melihat si kecil menuangkan idenya di
tembok. Sang ibu terpekik.
“Wadow…. Jangan sayang…”
Tapi semua sudah terlanjur,
dinding ruang makan sudah penuh goresan dengan spidol merah.
Mengapa hal itu bisa terjadi?
Kita
yang memperkenalkan dan mengajarkan pada anak untuk memegang pena serta mencoba
menggunakannya. Kita yang mengajarkan pada anak untuk menggambar. Memberi
contoh, dan mengarahkan anak untuk dapat menggerakkan tangan dan jari-jarinya
agar dapat menggambar dengan baik. Kita akan merasa senang sekali saat melihat
anak mulai bisa memegang pena, bisa menggores. Walau goresan itu belum
berbentuk, hanya sekedar goresan tanpa arti. Tetapi kita menghargai usahanya.
Setelah anak itu suka memegang dan berlatih membuat goresan, kita kadang
membunuh ekspresi mereka dengan memarahi karena membuat goresan di dinding
ruang tamu yang baru saja di cat.
Memahami
perkembangan anak, merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan. Karena
sebenarnya tugas kitalah untuk mengamati hal itu. Dengan mengikuti perkembangan
anak secara cermat, kita akan mengetahui kapan masa mencoreng pada anak
dimulai. Sehingga kita bisa mengantisipasi mereka berekspresi di tembok, meja
atau tempat yang lain yang tidak semestinya.
Viktor
Lowenfeld dan Lambert Brittain (1970) dalam Creative and Mental Growth mengatakan
bahwa tahap perkembangan seni rupa anak dibagi menjadi tiga periodisasi yaitu
: 1) masa coreng moreng,2) masa prabagan
dan 3) masa bagan. Kita akan focus pada satu masa, yaitu masa coreng
moreng.
Masa
coreng moreng adalah sebuah masa dimana anak merasa senang membuat
goresan-goresan. Masa ini ketika anak berusia sekitar dua tahun atau bahkan
sebelumny sesuai dengan perkembangan motoric tangan dan jarinya yang masih
menggunakan motoric kasar. Hal ini dapat
kita buktikan dengan melihat anak yang melubangi atau meluaki kertas yang dia
gunakan untuk melukis. Atau menggambar. Goresan-goresan
yang dibuat oleh anak pada masa ini adalah goresan yang belum menampilkan suatu
objek. Pada awalnya goresan ini dilakukan hanya karena mengikuti gerak motoric
anak semata.
Pada
tahap pertama ini anak hanya mampu menghasilkan goresan terbatas. Goresan
dengan arah vertical atau horizontal. Hal ini berkaitan dengan kemampuan
motoric anak yang masih menggunakan motoric kasar. Pada perkembangan berikutnya
goresan sudah mampu menggoreskan dengan arah yang bervariasi, termasuk sudah
mulai mampu membuat bentuk lingkaran.
Periode
ini terbagi menjadi tiga tahap yaitu : 1) corengan tak beraturan, 2) corengan
terkendali dan 3) corengan bernama.
Pada
tahap mencoreng tak beraturan, anak akan menggambar dengan cara sembarangan,
hasil yang didapatpun belum jelas , karena kegiatan mencoreng ini walau disukai
namun karena anak mencoba menggores tanpa melihat kertas atau papan yang
disediakan. Maka anak belum bisa menggores bentuk lingkaran walaupun dia dengan
semangat yang tinggi akan mencobanya.
Tahap
berikutnya yaitu tahap corengan
terkendali. Pada tahap sudah tercipta adanya koordinasi dan kerjasama antara
visual dan motoric. Hal ini terbukti dengan adanya pengulangan goresan, baik
itu goresan vertical, horizontal ataupun bentuk lengkung.
Corengan
bernama ada pada tahap terakhir. Hal ini ditandai dengan kemampuan anak untuk
mengontrol goresannya. Pada tahap ini
anak sudah mulai berani memberi nama hasil goresannya, mobil, ayah,
ayam, ikan dan yang lain. Anak mulai mengekspresikan idenya dengan goresan dan
mencoba mengemukakan pendapatnya dengan memberi nama.
Pada masa coreng moreng ini kita
sering kuwalahan menghadapi anak. Mengapa? Karena pada masa ini anak akan
sering berekspresi di sembarang tempat. Bahkan dinding yang baru saja selesai
kita cat dengan cat barupun tak luput dari sasaran aksi anak. Mereka akan
menunjukkan dengan rasa bangga hasil goresannya. Yang penting dia merasa senang
karena mampu menemukan hal baru.
Kegiatan membuat goresan inilah
yang sering membuat kita marah dan menganggap anak sudah melakukan kesalahan.
Sering terjadi kita melarang setelah melihat anak memberikan goresan di dinding, di lemari, di meja atau justru
di kertas-kertas dokumen penting tanpa sepengetahuan kita. Anak menggores di tempat-tempat tersebut
karena anak merasa senang mendapat tempat yang lapang, yang sesuai dengan
keinginan untuk berekspresi. Walaupun
hal itu sering kita anggap sangat merugikan.
Bagaimana cara mengantisipasi
agar anak tak mencoreng di sembarang tempat?
Salah
satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan membiasakan anak untuk menggores di
kertas yang kita sediakan. Pada saat
anak ingin menggores, kita harus tanggap. Segera menyiapkan kertas atau papan khusus agar
anak nyaman berekspresi. Pada saat anak ingin menggores di tembok, kita berikan
pengertian bahwa menggores sebaiknya di kertas atau di tempat yang sudah
disediakan. Mungkin beberapa kali anak akan tetap berusaha untuk menggores di
tembok, saat itulah tugas kita untuk mengalihkan perhatian dan meminta mereka
menggores pada tempat yang sudah disediakan.
Kita
juga bisa mengajarkan pada anak untuk menggores pada kertas atau kanvas.
Siapkan waktu khusus untuk belajar bersama anak. Kita siapkan kertas dan pena.
Berikan juga pada anak, kertas dan pena, lalu ajaklah mereka membuat goesan
pada kertas tersebut seperti yang kita lakukan. Dengan sering mengajak anak
menggambar bersama tentu akan tertanam dalam otak anak bahwa itulah cara
menggores yang benar.
Melihat
atau mengunjungi lomba lukis juga merupakan satu sarana untuk memperkenalkan
anak pada kegiatan menggores atau melukis. Pada saat melihat atau mengunjungi
lomba ini selain membuat hati anak senang, kita juga bisa menunjukkan contoh dan penjelasan bagaimana
seharusnya kita menggores atau melukis.
artikel ini dimuat pada Majalah Mentari edisi Mei 2016
edukasi
Melatih Anak
Mengambil Keputusan
Oleh Murmiyati
Hadi Santoso
Seorang ibu
membawa anak usia lima tahun ke sebuah toko mainan. Setelah melihat kesana
kemari, memperhatikan si anak berdiri terpana di depan salah satu etalase, sang
ibu bertanya.
“Mainan mana
yang hendak dipilih Nak?”
“Manut Mama
aja.”
“Tadi katanya
mau pilih robot?”
“Terserah Mama
aja.”
“Mau yang ini?
Atau yang itu? Yang ada dalam etalase?”
“Mama aja yang
pilih. Terserah mama aja!”
“Lho, Mas harus
belajar memilih dong. Nanti kalau mama yang pilih, kamu nggak suka?”
“Terserah Mama
aja.”
Berulang
kali si anak mengatakan semua terserah mama saja. Orang tua sudah mencoba
memberikan tawaran, mengingatkan keinginan si anak untuk membeli robot. Namun
karena banyak model dan jenis robot maka orang tua memberi kesempatan pada anak
untuk memilih. Apa yang terjadi? Si anak tetap tak mau menjatuhkan pilihan,
walau sebelumnya dia sudah melihat-lihat dan terpana melihat salah satu robot
yang dipajang.
Bila
keadaan sudah seperti ini, sebenarnya
sebuah masalah yang besar menghadang di depan kita. Ternyata anak kita tidak
mampu memilih. Mengapa hal ini terjadi? Bisa jadi ini terjadi karena kesalahan
kita. Karena kita tidak mengajarkan pada mereka bagaimana cara memilih, atau
kita tidak pernah memberikan kesempatan pada mereka untuk memilih. Sering
terjadi kita sebagai orang tua memberi kesempatan anak untuk memilih tetapi
tawaran itu hanya semu, karena kita sudah mempunyai pilihan dan berusaha
menggiring anak untuk memilih sesuai pilihan kita.
Dalam
ilustrasi tadi digambarkan bagaimana seorang anak diajak oleh ibunya untuk
membeli mainan. Anak ditawari untuk memilih, namun si anak menyerahkan semua
pada sang ibu. Hal ini bisa terjadi salah satunya adalah karena sang ibu
terlalu sering “mengarahkan” anak dalam memilih. Sebenarnya anak sudah memiliki
pilihan sendiri. Bahkan pada beberepa anak sampai menangis untuk mempertahankan
pilihannya. Orang tua menuruti kehendak anak untuk membeli mainan namun dengan
syarat. Boleh membeli tapi tidak yang mahal-mahal. Boleh membeli tapi tidak
boleh nakal. Boleh membeli tapi…. Terlalu banyak syarat, terlalu banyak tetapi
yang harus diingat, maka hal yang wajar bila anak akhirnya menyerahkan semua
keputusan pada orang tua. Sebuah pengalaman mengajarkan pada anak bahwa membeli mainan adalah mainan yang
diinginkan orang tua, bukan yang diinginkan anak. Bila hal ini sering terjadi
dan berulang, maka baying-bayang suram ada di hadapan anak kita.
Hidup
adalah pilihan. Banyak hal mengharuskan kita menjatuhkan pilihan yang tepat.
Menjatuhkan pilihan tidak selalu pada hal-hal yang besar, bahkan hal yang
kecilpun kita dituntut untuk memilih. Hal-hal kecil yang selalu dihadapkan pada
kita untuk memilih diantaranya adalah memilih dua hal yang berbeda atau
bertentangan. Duduk atau berdiri, mandi atau tidak, makan atau tidak makan,
bangun pagi atau siang, membaca atau menonton televise, tidur atau begadang,
dalam hal ini kita dituntut untuk memilih.
Belum lagi hal-hal yang lebih besar dan lebih kompleks. Memilih sekolah
dimana, mau belajar apa, memilih kegiatan apa, mecari pekerjaan yang bagaimana,
dan sebagainya. maka kemampuan memilih harus dilatihkan pada anak sejak dini.
Sikap
anak mayoritas adalah duplikat orang tua. Sikap ini didapat dari pendidikan
sehari-hari yang diterapkan oleh orang tua pada anak. Pada sebagian yang lain,
anak menjadi peniru ulung. Meniru apapun yang dilakukan oleh orang tua. Karena
orang tua sebagai teladan terdekat bagi anak. Anak yang terbiasa menyerahkan
semua keputusan pada orang tua tentunya akan sangat berpengaruh pada saat anak
tersebut dewasa nanti. Dalam pertumbuhan anak menuju remaja dan dewasa dituntut
untuk memiliki kemampuan memilih. Baik itu untuk dirinya sendiri atau untuk
orang lain.
Bagaimana
mengatasi hal ini bila sudah terlanjur? Masihkan kita punya kesempatan untuk
memperbaikinya? Semua tergantung pada usaha kita.
Sebuah
pengalaman mengajarkan bahwa bila hal ini terjadi pada anak-anak kita, maka
kita harus segera melakukan evaluasi diri dan mengubah sikap. Mengubah sikap
anak bukan hal yang mudah, perlu waktu dan disiplin. Hal pertama yang harus
dilakukan adalah kita harus berani memberi kesempatan sepenuhnya pada anak
untuk memilih. Selain itu kita juga harus disiplin. Dalam arti kita harus tega
tidak memberikan apapun pada anak pada saat mereka tidak menjatuhkan pilihan.
Sebagai contoh yang mudah, kita menawarkan anak untuk makan sekarang atau
nanti. Bila anak tidak menjatuhkan pilihan, kita harus berani tidak memberi
makan walau melihatnya kelaparan. Dari pelajaran pertama ini sebenarnya kita
memberi tahu anak bahwa dia harus belajar menjatuhkan pilihan. Pada kondisi
seperti ini biasanya orang tua tidak tega dan lupa pada disiplin yang harus
kita terapkan. Sikap tidak tega dan merasa kasihan untuk sementara harus kita
singkirkan. Karena kita ingin memiliki anak yang terampil dalam mengambil
keputusan, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain.
Mengajarkan
anak untuk menjatuhkan pilihan perlu proses dan butuh waktu yang lama. Karena
kita ingin anak kita tidak merasa kaget ketika kita meminta mereka untuk
memilih. Kesabaran dan ketelatenan sangat dibutuhkan. Kita bisa mengajarkan
anak menjatuhkan pilihan tidak dalam satu waktu. Juga usahakan mengajarkan anak
memilih dalam suasana yang menyenangkan, rileks, dengan senda gurau, sehingga
anak tidak merasa bila sedang dilatih untuk menjatuhkan pilihan. Banyak hal
yang bisa kita lakukan untuk mengajarkan anak menjatuhkan pilihan. Melibatkan
anak dalam mengambil keputusan, melakukan komunikasi intensif, mendampingi
dalam bermain, mengajarkan untuk mengatur waktu, merupakan hal-hal yang bisa
mendukung anak dalam menjatuhkan pilihan.
cerita pendek
PANGGIL
AKU AYAH
Oleh : Murmiyati Hadi Santoso
Wajah
ovalnya seperti Sri, matanya milikku. Aku hanya bisa terpana melihatnya.
“Tidak, kau bukan ayahku.” teriakannya keras
membahana.
“Dia ayahmu Nak.”
“Tidak....!!!”
“Na…
sadar Na….”
“Tidak…,
tidak…, aku tidak punya ayah.”
“Na,
Nana…. lihat bapak Na.”
“Buka
matamu Na, lihat bapak Na….”
“Tidak….
aku tidak punya ayah….”
Pupus
sudah harapanku. Usaha Mas Han dan Mbak Harti tak berhasil. Nana hanya mau
melihat Mas Han sebagai bapaknya, walau akulah ayah kandungnya. Harapan untuk
dipanggil ayah oleh anak kandungku sendiri. Anak gadis yang seharusnya
kunikahkan hari ini, tidak mengakuiku sebagai ayahnya.
Sejak
awal sebenarnya aku memang sudah ragu untuk berangkat ke tempat ini. Tempat
yang bagiku terlalu kelam. Tempat yang sangat ingin kuhapus dari sejarah
hidupku sejak dulu. sebuah tempat yang
telah membuatku terpuruk dan hamper gila. Bukan hanya hamper gila, tetapi sudah
membuatku gila. Hingga aku tak ingin lagi menengok ke belakang. Menghapus semua
yang ada hubungannya denga Sri.
Seandainya
Mas Han tidak berkabar padaku, aku tak
mungkin menginjakkan kaki kembali di sini. Hanya karena sebuah SMS singkat.
NIKAHKANLAH ANAK GADISMU. Sebuah SMS yang seandainya kuabaikanpun tentu mereka
semua akan mengerti. Ketika sebuah SMS datang tak kubalas, kemudian beruntun
datang kembali SMS dengan bunyi yang sama.
Perasanku
mulai resah. Di kantor aku mulai sering melamun (kata teman-teman yang satu
ruangan). Banyak pekerjaan yang akhirnya tertunda. Bahkan yang paling nyata,
aku menjadi semakin sensitive. Hanya karena hal yang sepele sudah bisa
membuatku marah-marah tak menentu.
Aku
jadi mulai dirundung rindu. Membayangkan seperti apakah anak gadisku ini.
Apakah dia cantik manis seperti ibunya? Ataukah dia berkulit gelap dengan
rahang tegas dan mata setajam elang sepertiku? Ataukah dia tumbuh menjadi gadis
perpaduan antara diriku dengan Sri? Ada rasa segan pada kakakku untuk meminta
foto anak gadisku. Apalagi aku hamper tak pernah merespon apapun berita tentang
darah dagingku ini. Aku mencoba menutup masa laluku. Berleha-leha membayangkan
wajah gadisku ini, seperti orang yang sedang jatuh cinta.
“Kerja
Man…” suara Makmun mengingatkan.
“Heemm…
“ jawabku masih sambil menyandarkan badan di punggung kursi dan kaki
berselonjor di atas tumpukan kertas bekas.
“Kapan
kau mau kirimkan berkas permohonan ini?”
“Nanti
siang sajalah…” sahutku malas-malasan.
“Awas
terlambat lagi lho.”
“Iya.
Pasti kuantar. Tenang saja.”
“Kenapa
sih Man, beberapa hari kau tak bergairah? Capek? Sakit?” Makmun mencoba
menelisik.
“Tidak.”
“Lha
terus, ngapain?”
“Aku
jatuh cinta.”
Haaaa…..
suara mereka serempak. Semua kegiatan berhenti. Retno yang semula asyik dengan
computer berhenti. Berdiri mendekatiku. Pelan-pelan menyentuh keningku.
“Bener
Pakdhe?” tanyanya hati-hati penuh rasa ingin tahu.
Oo
ya… mungkinkah gadisku seperti Retno? Tinggi semampai tapi berisi? Dengan kulit
agak terang dan senyum yang cukup menawan? Kuperhatikan Retno lebih teliti.
Yang kuperhatikan salah tingkah. Dibetulkannya kerudung yang tidak berubah
sejak tadi pagi, masih rapih dan kelimis. Berulang diangkatnya kacamata
berbingkai hitam yang dipakainya. Walau dia yakin bahwa kacamata itu tidak
berpindah dari tempatnya bertengger, di hidungnya yang mancung. Kuperhatikan
lebih jelas. Ah tidak. Gadisku tidak mungkin bertampang judes seperti Retno,
Dia pasti lemah lembut seperti Sri, atau tegas sepertiku. Retno akhirnya
beranjak kembali ke mejanya setelah tak mendapat jawaban apapun dariku.
“Bener
Man?” Bu Yan ikut-ikutan bertanya.
“Bener…”
“Ingat
istri dan anakmu Man…”
“Aku
ingat … tapi yang ini lain…”
“Kalau
kamu jatuh cinta lagi, anak istrimu bagaimana? Mau dibuang begitu saja?”
“Aku
kangen…”
“Uedaann…”
“Kangen
banget… sumpah…”
“Man,
sadar Man, anak-anakmu sudah besar semua. Kau mau mereka terluka kalau tahu
tingkahmu?”
“Aku
ingin lihat wajahnya…”
“Parman
sudah gila.”
“Aku
memang sudah gila.”
“Sadar
kau Man, kalau sudah gila?”
“Aku
ingin sekali melihatnya… seperti apa dia sekarang?”
“Siapa
yang kau maksud Man?”
“Gadisku.”
“Gadis
yang telah membuatmu jatuh cinta?”
“Cantikkah
dia? Semampaikah dia?”
“Duduk
Man. Jangan buat semua orang disini kebingungan mendengar omonganmu yang tidak
jelas itu.”
“Aku
kangen, bisakah kau tunjukkan wajahnya?”
“Man.
Parman.”
“Maafkan
aku. Aku yang salah. Aku yang ingin melupakannya. Aku yang telah
mengabaikannya. Maafkan aku, maafkan akuuuu….”
Aku
berteriak keras-keras, bergerak membabi
buta. Membuat semua penghuni ruangan terpana melihatnya. Kuhamburkan
semua yang ada di meja. Suara gelas terbanting tak mengendorkan keinginanku
melepaskan diri. Suara Retno, Bu Yan yang berteriak ketakutan memacu
keinginanku untuk bergerak lebih beringas. Napasku ngos-ngosan, Ingin rasanya
melepaskan beban yang menghimpit. Beban yang membuatku kesulitan untuk
bernafas. Buukkk…. sebuah tempelengan menghampiri. Aku terhuyung. Makmun, Jati,
Didin, mereka meringkusku.
Kurasakan
elusan tangan Bu Yan di bahuku. Retno mengangsurkan aqua gelas.
“Sabar
Man. Minuumlah dulu.”
Suara
Bu Yan yang teduh, menenangkanku. kuteguk air di gelas yang diasungkan Retno.
Rasa pusing bekas tempelengan masih terasa. Aku tak tahu siapa yang sudah
melakukannya. Namun aku berterima kasih karenanya.
“Ada
masalah bisa dibicarakan Man. Tapi bukan dengan cara seperti ini. Kami hanya
teman, tapi kami jugalah keluargamu. Kalau kau merasa tidak mampu bicara dengan
keluargamu, tentu kami akan membantu. Tentu dengan cara yang tepat. Bukan
dengan diam dan marah-marah tidak karuan.”
“Setiap
masalah pasti ada pemecahannya. Begitu juga masalahmu.”
Aku
terguguk mendengar kata-kata Bu Yan. Sebenarnya rasa bersalahlah yang paling
kurasakan. Benar, aku yang salah selama ini. Akulah yang selalu berusaha
menganggapnya tidak ada. Menganggap bahwa semua itu hanya mimpi buruk yang tak
perlu diingat, apalagi diulang kembali. kucoba menguburkannya semuanya. Aku
berharap dengan menikah kembali, membangun keluarga baru, maka semua itu akan
terlupakan. Ternyata tidak. Di lubuk hati yang paling dalam, aku masih
menyimpan mereka.
Ternyata
kenangan itu tak pernah sirna dalam hidupku. Sekuat apapun aku mencoba
menghindarinya. Masih lekat dalam ingatanku, betapa bahagianya aku menghadapi
kelahiran buah cintaku bersama Sri. Gadis pujaanku sejak masih SMP, hingga aku
lepas SMA dan bekerja. Sebagi bukti cinta, kamipun akhirnya menikah.
Pada
bulan kedua pernikahan, Sri hamil. Kami sambut kehamilan itu dengan suka cita.
Betapa aku sangat membatasi kegiatan Sri, karena aku ingin bayi mungil yang
sehat. Sri adalah istri yang baik, penurut, maka dia lakukan apa yang kuminta.
Akan tetapi, takdir berkata lain. Maut menjemput saat Sri melahirkan. Anakku
selamat tapi Sri terlanjur pergi. Kutangisi Sri berhari-hari.
Rasa
kehilangan yang amat sangat membuatku seperti orang gila. Hingga aku lupa bahwa
aku masih memiliki seorang anak. Yang tak pernah sekalipun kulihat wajahnya.
Bahkan sebuah namapun tak pernah kutinggalkan.
Aku melarikan diri dari kenyataan. Berlari sejauh mungkin dan tak pernah
ingin kembali.
“Bercerita
mungkin akan sedikit mengurangi bebanmu Man.”
Aku
tak berselera untuk bercerita. Kuambil telepon genggam dari saku celana. Kubuka
pesan dari Kakakku. Kuasungkan pada Bu Yan.
“Kubaca?”
tanya Bu Yan menegaskan.
Aku
mengangguk. Menunggu reaksi Bu Yan. Dahinya mengernyit, memandangiku penuh
tanya.
“Gadismu?”
kembali aku mengangguk.
“Kapan?”
“Minggu
depan.”
“Istrimu
tahu?” aku menggeleng.
“Pulanglah.
Itu kuwajibanmu sebagai ayah. Beritahu istrimu baik-baik. Kau pasti bisa
menjelaskannya. Kalau perlu bantuanku, kau bisa mengajakku untuk bicara dengan
istrimu. Aku percaya, istrimu pasti bisa menerima dengan baik asal kau tak
jatuh cinta untuk menikah lagi.”
Aku
masih termangu-mangu hingga saat sitirahat siang tiba. Mereka bubar untuk
mengisi perut masing-masing sebelum berkutat dengan pekerjaan berikutnya hingga
sore hari.
Ndawukan, akhir
September 2016
Cerpen ini pernah dimuat di Majalah Mentari
cerita pendek
SP 3
Murmiyati Hadi Santoso
Keringat dingin mulai menetes di
punggungku. Aku mengingsut duduk. Memperbaiki posisi duduk agar lebih nyaman.
Ingin rasanya mendongakkan kepala.
Menatap dua orang yang duduk di hadapanku dengan senyum yang biasa kusapakan
kepada mereka. Sayang. Kepala ini terasa kian berat saja. Bahkan untuk sekedar
melirik dengan sudut matapun aku tak mampu.
“Sudah berapa lama kau lakukan
ini Riz?”
“Belum lama.”
Ah, aku menipu
lagi.
“Sejak kapan?” Tanya yang
lainnya.
“Aku lupa.”
Entahlah ini
sudah kebohongan yang keberapa yang kulontarkan sejak pertemuan ini tadi.
“Bagaimana kau melakukannya?”
“Siapa yang memberitahu
caranya?” suara yang lebih berat dan menekan terdengar.
“Kau lakukan dengan siapa saja?”
Berbagai pertanyaan saling berebutan memenuhi telingaku. Saling
mendahului. Kejar mengejar. Semua butuh jawaban. Dan aku tak tahu, mana yang
harus kujawab terlebih dahulu. Akhirnya aku hanya terdiam. Membisu.
“Kenapa gak jawab?”
“Ayo jawab?” suara yang berat
itu kembali terdengar.
Suara yang keluar justru dari tubuh yang kurus, wajahnya tirus. Kacamata
tebal dengan bingkai hitam itu membuatnya kian dingin. Jarang sekali kulihat
senyuman di bibirnya. Mungkin bibirnya terlalu mahal untuk sebuah senyuman.
Garis bibir yang lurus. Beku. Kudengar irama jantungnya yang mencoba ditahan.
Detaknya terdengar nyaring ditelingaku. Dalam hening ruang ber AC tanpa asap
rokok. Ruang kedap suara.
Aku menarik nafas panjang. Mencoba melepaskan beban yang menghimpit.
Membebani. Berat. Hanya sekedar untuk menarik nafas saja beratnya minta ampun.
Kutautkan kedua telapak tanganku saling meremas hingga menimbulkan suara
gemeletuk ruas-ruas jari yang saling beradu.
“Aku mempelajarinya sendiri.”
Sahutku pasrah.
“Belajar darimana?”
“Browsing di internet.”
Tak mungkin aku mengorbankan semua temanku dalam tim ini hanya karena
sebuah pengakuan. Mungkin tidak semuanya
terkena. Tapi beberapa orang pasti akan mengalami seperti yang kualami sekarang
ini.
“Tidak mungkin. Computer disini
tidak semudah itu dibobol.”
“Tunjukkan caranya sekarang.”
“Aku harus mempelajarinya
kembali, darimana aku mendapatkan caranya.
Aku butuh waktu untuk itu.” Aku mencoba mengulur waktu.
“Kuberi waktu 48 jam dan kau
harus menyampaikannya pada kami.”
“Aku butuh waktu lebih lama.”
“Waktumu
hanya 48 jam. Kalau kau menemukannya dan menyampaikan pada kami maka kami hanya
akan memberimu SP 2.”
Haaa… SP2. Potong gaji dan bayar
denda. Tapi itu riskan sekali. Tamatlah riwayatku. Aku bakal menjadi
pengangguran kembali. Bisa jadi bakal berhari-hari puasa kembali seperti dulu.
Hidup nebeng di kost teman, makan belum tentu sehari sekali. Apalagi pegang
uang, itu hal yang sangat mewah. Maka walau dengan gaji yang sangat minim,
kulakoni juga pekerjaan ini. Walau kadang sering dianggap tak layak. Bahkan
hasil kerjaku dibanding tukang parker masih lebih tinggi tukang parker.
“Selain itu masih ada perjanjian yang harus kau tanda tangani. Tentu
bila kau bisa melakukan maka kau masih bisa bebas melenggang dan bekerja
disini.”
Nasibku diujung tanduk. Namun aku tak bisa berbuat apa-apa. Apa yang
masih bisa kuperbuat bila aku tertangkap basah melakukan pelanggaran?
Pelanggaran yang merugikan perusahaan?
Pada awalnya aku masih menikmati. Bisa mengantongi uang tambahan hingga
seratus ribu semalam. Hal itu mendatangkan sensasi tersendiri. Seperti
memenangkan sebuah pertandingan. Apalagi itu uang jauh diatas gaji harian
yang kuterima. Bahkan beberapa teman tim
kami merasa sangat bangga. Bahkan kecanduan untuk rajin bekerja dengan harapan
mendapat tambahan lebih. Ternyata candu itu memabukkan. Melenakan. Benar-benar
membuat kami terlena.
***
AC di ruangan ini masih dingin.
Sedingin perasaanku. Kesadaran untuk menerima sanksi bila itu memang harus
terjadi. Jemariku masih mengutak-utik mouse. Mencoba mendata ulang situs-situs
dimana bias kutemukan cara untuk mengelabui perusahaan. Kurinci semuanya. Aku
harus bias menunjukkan pada manager apa yang telah dia minta dan kujanjikan
kemarin lusa.
Tepat pukul 20.00. Suara derit pintu mengganggu konsentrasiku. Aku
menengok. Dua orang yang kemarin menjadikanku pesakitan kembali dating. Seorang
dengan tubuh jangkung, hitam dan berkacamata tebal. Seorang lagi berkulit lebih
bersih. Wajahnya bulat dengan rambut cepak dan potongan tubuh yang tegap. Dia
layak menjadi angkatan menurutku. Namun dia terdampar disini. Di sebuah warnet.
Walau jabatannya adalah seoarang manager.
“Sudah kau susun semuanya?”
suara si gendut di sampingku. Kulihat si jangkung menuju meja tamu, meraih koran
dan membuka halaman demi halaman.
“Sudah.”
“Bagus.” Dia mencoba mengamati
hasil kerjaku.
“Perlu print out? “ tanyaku
basa-basi. Hanya agar tak sunyi saja.
“Boleh.” Katanya sambil duduk
dekat si jangkung dan membuka-buka berkas dari dalam tasnya.
“Setelah nge print silakan tanda
tangani ini.”
“Apa ini?”
“Perjanjian agar kau tidak kena
SP 3.”
“Aku harus membacanya terlebih
dahulu sebelum tanda tangan.” Ada rasa curiga dalam hatiku bahwa mereka akan
menjebakku.
“Bacalah.”
Aku meraih stopmap biru yang dia
ulurkan. Tiga buah pejanjian yang tidak semuanya bias kulakukan. Perjanjian
pertama untuk tidak melakukan pelanggaran lagi. Aku masih bisa menerima.
Perjanjian kedua untuk tidak mengimbaskan ilmu yang kudapat pada teman lain aku
juga masih bisa menerima. Tapi pada perjanjian ketiga. Menanggung semua pegawai
baru untuk tdak meniru apa yang kulakukan? Itu mustahil. Mereka mungkin lebih
pandai dari aku. Hanya saja mereka punya nyali untuk melakukan atau tidak. Dan
itu suatu hal yang tak mungkin aku tanggung. Aku merasa terjebak. Dengan cara
apapun mereka ingin menyingkirkanku.
“Perjanjian nomor tiga aku tak bisa
menandatanganinya.”
“Kenapa?”
“Kau takut?” aku benci sekali
suara itu. Suara yang dingin dan berat. Suara yang menekan dan menghimpit.
“Mereka manusia yang punya akal
dan pikir. Jadi aku tak mungkin mengendalikan mereka.” Aku bersikukuh tak
menandatangani perjanjian itu. Walaupun posisiku sangat riskan. Dulu aku juga
pernah tak punya apa-apa. Belum tentu bisabisa makan tiap hari. Dan sampai
sekarang nyatanya aku masih hidup.
***
Teman-teman baikku masih
menunggu di luar. Mereka memintaku untuk bergabung di warung angkring Lik Giyo
langganan kami. Mereka menunggu berita
yang kubawa. Pelan aku menuruni tangga. Aku harus tetap bisa tersenyum. Aku
masih ingat ketika mereka berebut keripik pisang kiriman ibuku dari kampong.
Tawa yang renyai. Celoteh yang menggemaskan. masih adakah kesempatan buat
tertawa bersama mereka?
Dua tahun ini aku merasa mendapat keluarga baru. Hidup bersama mereka,
saling bertukar cerita. Berbagi duka. Kuni, gadis cerewet, bendahara kami.
Gadis yang paling sering kuganggu hanya karena aku mau pinjam uang kas untuk
membeli seliter bensin. Zahra yang pendiam tapi lebih terkesan cuek bebek.
Mungkin kalau ada orang pingsanpun dia tak akan bereaksi selain customer. Fajar,
anak muda yang selalu bangun kesiangan. Dating ke kantor dengan mata yang masih
kriyip-kriyip. Dian sang pahlawan. Pemilik took busana yang ingin menjajal
pekerjaan jadi OP warnet. Pak Kardi penguasa parker yang sering marah-marah
hanya karena aku parker sembarangan. Pria setengah tua yang sebenarnya berhati
lembut. Hanya karena sapaannya aku jadi jatuh cinta padanya. “Pakai mantel.
Hujan. “ katanya suatu ketika.
Berat langkah kakiku. Berat melepas mereka dari hidupku. Lebih berat
dari denda 5 juta yang harus kubayar. Walau aku belum tahu bagaimana caranya
harus membayar denda sebesar itu. Jantungku berdentam-dentam. Terima atau tidak
itulah yang terjadi. Resiko. Guru bahasa Indonesiaku di SMP pernah mengatakan,
siapa menanam, mengetam. Sekarang aku baru mengetam, mengetam tanaman yang
kutanam sendiri. Uppss. Karena berjalan sambil melamun, dua telundak kulewati
tanpa sadar. Hamper aku terpelanting. Untung pegangan tangga masih kuat
menerima beban tubuhku. Beberapa penghuni ruang-ruang warnet mendongak
mendengar suaraku tertahan. Aku hanya tersenyum. Kecut.
Kuni yang melihatku segera mendekat dan menyeretku keluar. Menuju warung
angkring di sisi kanan warnet. Beberapa teman menungguku tegang.
“Gimana Riz?” suara mereka hamper berbarengan. Wajah-wajah ingin tahu berusaha
melihat langsung wajahku.
“Es Jeruk Lik.” Kataku pada Lik Giyo pedangang angkring langganan kami.
“Manis?” tanyanya.
“Harus Lik. Hidupnya sudah pahit masak minumnya pahit.” Aku berusaha
melucu. Tapi leluconku hambar. Tak ada yang menyahut.
“Gimana Riz?” kali ini suara Zahra yang memelas.
Kutatap wajahnya. Sebuah senyum kulontarkan. Wajahnya jadi kian cemas.
“Gara-gara aku ya?” wajahnya memerah, hamper menangis.
“Salahku sendiri.” Sahutku menentramkan.
“Trus hasilnya piye?”
“Denda 5 juta.”
“Haaa…. Banyak banget?” sahut mereka serempak.
“Gimana kamu mau bayar itu Riz?”
“Dan SP 3”
“Haaaaa … “
“Ya, dipecat dengan tidak hormat dan harus membayar denda.” Kuminum
tandas es jeruk dari Lik Giyo.
“Tolong bayari es ku.”
Aku ngeloyor pergi. Tanpa memperdulikan mereka yang terbengong-bengong
melihat sikapku.
“Es nya gratis untukmu Riz.” Masih kudengar teriakan Lik Giyo yang
memberiku gratisan.
Kudongakkan wajahku. Menghindarkan buliran panas jatuh dari sudut mata.
Malam masih berbintang. Gumpalan awan menghiasi langit di sana sini. Seperti
berjalan di bawa angin. Aku melangkah menuruti kaki. Kemana kaki mengarah aku
tak perduli. Aku hanya ingin bernafas bebas dan lega. Ternyata dipecat tapi
membuatku lebih bahagia. Ternyata Alloh masih saying padaku. Diperingatkan
dengan caranya. Agar aku tak terjerumus lebih dalam. Angin dingin yang mengusap
membuatku bisa berpikir lebih jernih. Kali ini aku jadi cengeng. Sangat rindu
pada ibu. Ingin memeluknya. Tidur dipangkuannya. Sambil mendengar nasehatnya.
Jangan lupakan sholat. Selalu berbuat jujur. Senantiasa berniat baik.
HP di kantong bergetar. Pesan WhatsApp masuk.
“Riz kami Cuma bisa patungan 200 an buat bantuin kamu. Besok silakan
diambil. Dananya Kuni yang simpan.”
Dadaku semakin sesak. Kusandarkan
tubuhku di tiang listrik yang dingin. Kendaraan yang lalu lalang di depanku
masih ramai. Ternyata aku tak hanya sendiri.
Soga 4
April 2015
Kado spesial buat Ragil Kuning
Cerpen ini pernah dimuat di majalah Mentari
Subscribe to:
Posts (Atom)





