Wednesday, March 7, 2018

cerita pendek


Mas Pulang

Oleh : Murmiyati Hadi Santoso


Allohu akbar…. Allohu akbar… Allohu akbar…. Suara adzan Ashar berkumandang. Jelas sekali tertangkap telinga. Jam bezoek masih satu jam lagi. Sebentar lagi waktunya perawat untuk keliling memandikan pasien yang butuh bantuan untuk mandi. Termasuk diriku. Yang setelah beberapa hari masih tetap belum diizinkan untuk turun ke kamar mandi sendiri. Bahkan untuk buang air kecil sekalipun. Apalagi untuk mandi. Menurut SOP masih harus tetap dibantu alias dimandikan. Selama infus dan selang oksigen masih terpasang. Walau diri ini merasa sudah lebih baik.
Dalam kondisi yang seperti ini aku jadi teringat ayah. Ayahku yang sudah berusia hamper 80 tahun. Yang saat  ini tinggal bersama kami. Setahun lebih ayah tinggal bersamaku setelah sebelumnya tingga bersama adik bungsuku.  Sebelumnya sangat sulit mengajak ayah untuktinggal bersamaku. Beliau bersedia kuboyong saat adik bungsuku berangkat haji. Nah, sejak itulah ayah tak pernah kukembalikan lagi. Kata adik bungsuku, ayahnya telah diculik oleh kakaknya. Haha, bahasa yang berbeda. Akan tetapi itulah gaya bahasa adikku. Dia senang sekali menggunakan kata-kata yang penuh retorika atau menggunakan gaya bahasa.
Bahagia rasanya bisa membawa ayah untuk tinggal bersama. Dengan tinggal bersamanya, aku bisa mengurus beliau dengan lebih baik. Menyiapkan makan yang sehat, merawat tubuhnya yang kian renta hingga tak mampu mandiri. Semua kulakukan dengan hati riang. Kuwajibkan semua warga rumah untuk selalu menyapa ayah. Baik sebelum pergi maupun saat masuk rumah. Dengan harapan ayah merasa hangat dan nyaman tinggal bersama kami. Alhamdulillah, dengan cara itu, semua berjalan lancer dan baik.
Bila ayah ingin menengok rumah, aku berusaha mengantarkannya. Dengan catatan cukup sehari atau dua hari saja. Karena menurut beberapa teman dan keluarga, selama ayah tinggal bersamaku kondisi beliau semakin membaik. Tentunya aku tak ingin melihat ayah yang hanya membungkuk dan kesulitan untuk berjalan. Aku ingin ayah lebih baik. Lebih bisa melakukan mobilitas walaupun  penuh keterbatasan. Segala upaya kulakukan, dari obat yang rutin harus kutebus hingga fisiotherapi seminggu dua kali. Alhasil, kini telah kulihat perubahannya. Ayah yang semula tergantung pada tongkat berkaki empat, kini sedikit demi sedikit, terutama di siang hari, ayah bisa berjalan-jalan tanpa tongkat. Bahkan kini ayah memiliki hobbi baru, menyiram tanaman anggrekku.
Diantara kesibukannya, ayah sering bercerita tentang apa saja. Bisa tentang masa lalu yang menyenangkan atau yang membuatnya sedikit uring-uringan. Saat bermain kanvas, beliau akan bercerita tentang diriku yang pernah jadi modelnya.Kemudian beliau akan bercerita bagaimana memilih sudut pandang yang baik. Harus berani memilih warna dan tidak ragu-ragu dalam mencoret kanvas. Kadang juga di saat-saat seperti ini kutemukan mata ayah yang murung. kalau sudah begitu aku mencobanya untuk mengalihkan topic pembicaraan. Sayang, akhir-akhir ini sering kulihat ayah termenung.
“Ingat sesuatu Pak?”
“He he… iya…?”
“Ibu?”
“Juga Ibumu.”
“Berarti ingat yang lain?”
Kupandangi wajah ayah lebih teliti. Kudapati wajah ayah yang kian letih.
“Bapak kangen…”
“Kangen siapa Pak?”
“Mas mu… beberapa hari dia hadir dalam mimpi.”
Mas mu? Siapa yang dimaksud ayah dengan Mas mu? Aku linglung memikirkannya. Ayah memang pernah bercerita selintas tentang kakak sulungku yang pergi dari rumah saat aku masih kecil. Aku ingat pernah dibonceng sepeda di depan oleh mas ku. Keliling kampong, kami tertawa-tawa gembira. Seingatku waktu itu, mas ku sudah dewasa. Aku masih ingat saat ibu selalu menyebut nama mas Yatno setiap memperkenalkan keluarga kami pada siapapun. Namun nama itu hanya sekedar nama, yang tak pernah lagi kulihat wajahnya, kurasakan pelukannya. Bahkan aku hamper tak pernah ingat lagi wajahnya seperti apa. Cerita yang kudengar hanyalah mas ku pergi tanpa pernah berkabar apa-apa lagi pada keluarga. Menurut cerita, itu dilakukan karena mas ku marah pada ayah karena disuruh mencari kerja. Lalu, mas ku hanya tinggal nama tanpa rupa.
Kini ayah merindukannya. Merindukan kehadirannya setelah sekian puluh tahun berpisah. Bagaimana cara mencarinya? Bukankah selama ini kami lost contac ? Diumumkan di media? Mungkinkah?
“Ayah pernah berkabar dengannya?”
“Tidak.”
“Pernah mendengar posisinya dimana?”
“Tidak.”
Pelik. Itu kata pertama yang terucap. Kalaupun bisa menemukan tentu butuh waktu yang lama dan sulit. Suasana yang selama ini tenang menjadi sedikit berombak karena kerinduan ayah pada mas Yatno. Mencoba menghubungi saudara-saudara yang ada hubungannya dengan mas Yatno. Sebagian besar menjawab dengan jawaban tidak tahu tapi penuh rasa ingin tahu.
Tok tok tok
Suara ketukan dipintu disertai suara pintu terbuka. Anak bungsuku masuk dengan menggendong ransel kesayangannya. Senyumnya riang, wajahnya sumringah.
“Nggak bobok Ma?”
“Enggak. Bapak gimana? Sehat?”  Aku membahasakan anakku dengan panggilan bapak untuk kakeknya, ayahku.
“Tenang Ma, bapak sehat wal afiat. “
“Alhamdulillah. Kamu sendirian? Dari Perpus?”
“Iya, Papa masih di kantor.”
Tangannya lincah membuka-buka doos di atas meja. Saat menemukan yang dicari, dia segera membukanya dengan cepat dan menyuapkan kemulutnya yang mungil.
“Laper?” tanyaku.
“He eh… banget.” sahutnya sambil tersenyum.
Dering telepon genggam berbunyi.
“Hallo… Assalamu’alaikum.”
Mulutnya yang masih penuh agak susah menjawab telepon. Tangan kanannya mengusap mulut sambil setengah menutup, takut suara kunyahan terdengar dari seberang.
“Pakdhe posisi dimana?”
“….”
“OTW? Naik taksi? Ooo udah nyampe? Kujemput Pakdhe. Pakdhe disitu saja, tunggu aku ya Pakdhe.”
Kakinya sibuk meraba-raba sepatu di bawah kaki kursi.
“Siapa?” tanyaku penasaran.
“Pakdhe.” jawabnya sambil meluncur keluar.
Ditanya baik-baik, main pergi saja, namun aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku masih belum boleh turun, apalagi untuk berlari mengejarnya. Pakdhe? Pakdhe siapa? Ahh… mungkin kakak sepupuku, atau kakak iparku yang datang. Tapi darimana mereka tahu kalau aku dirawat disini? Bukankah tak ada yang diberitahu selain anak bungsuku saat aku harus opname beberapa hari di rumah sakit ini? Ah, entahlah. Kulayangkan pandangan ke jendela, langit terang, pucuk-pucuk pohon hijau meliuk diterpa angin sore. Mendhung yang semula bergayut telah disapu angina. kurasakan sedikit kesejukan dengan menatap dedaunan. Sebuah puncak bangunan menjulang dibelakang.
“Mama…” kudengar suara anak bungsuku.
Aku menoleh, seorang laki-laki kurus, tinggi, dengan peci coklat tersenyum kearahku. segera datang dan memelukku erat-erat.
“Adikku… adikku… adikku…” diciuminya wajahku tiada henti.
Aku terhenyak. Ada sesak di dada yang harus dituntaskan. Sepasang mata memandangiku dengan tetesan air mata. Senyumnya menawan. Aroma bahagia terpancar diwajahnya. Aku masih tertegun. Tak tahu harus berbuat apa. Sepasang tangan yang memeluk itu masih erat, tetesan hangat meleleh di wajah. Suara sedu yang terbata. Tiba-tiba saja aku telah memelukknya. Seperti dulu, saat dia menggodaku dan memelukku dari belakang erat-erat kemudian aku akan meronta-ronta. Saat ini aku tidak meronta lagi. Aku ingin menikmati dekapannya.
“Bapak?”
“Semua sudah selesai. Pakdhe sudah ketemu bapak.”
“Kita bersama lagi, seperti dulu.” mas Yatno berucap.
Kusandarkan kepalaku didadanya. Menikmati degub jantungya yang tak lagi perkasa. Menikmati indahnya kebersamaan. Menikmati indahnya saling memaafkan. Memaafkan menjadi kata yang paling indah untuk menyambung tali silaturahmi. Besar harapanku, dengan  kepulangan mas, maka ayah akan kembali ceria.

Ndawukan Akhir September 2016
kado cinta buat mas yang baru jumpa


Cerpen ini dimuat di Majalah Mentari edisi Juli 2017

cerita pendek


Masih Ada Kesempatan


Oleh : Murmiyati Hadi Santoso

Ibu jariku masih menari-nari. Menjelajah tiap buku  jari. Bukan menghitung, hanya menandai. Mungkin sudah ribuan Al Fatihah dan surat Ikhlas yang meluncur dari bibirku sejak berangkat dari stasiun Rogojampi. Menyelaraskan ungkapan dengan tarikan nafas. Seperti yang pernah diajarkan oleh pamanku saat hati gelisah. Mencari tenang. Memburu ridho dari Yang Maha Kuasa. Berharap senantiasa diberikan kesabaran dan kelapangan dada. Dilimpahkan rasa ikhlas menerima apapun yang telah diberikan-Nya. Apa pun, tanpa kecuali.
Derit roda kereta beradu dengan rel, berdecit-decit. Gerbong sunyi. Wajah-wajah yang terkantuk-kantuk, kepala menunduk bergoyang kesana kemari. Sepasang anak muda di depanku memautkan telapak tangan, jemarinya beradu saling menggegam, seolah takut kehilangan. Tak mengganggu gerakan bibirku. Kepalanya juga terangguk-angguk mengikuti goyangan gerbong kereta. Kepala si gadis berulang kali lepas dari pundak sang jejaka. Setiap kali itu terjadi, tangan kanan sang jejaka akan memposisikan kembali kepala gadis itu di pundaknya seperti semula. Kuluruskan kakiku yang pegal. Sedikit meliukkan badan berharap Ibu sepuh di sampingku tidak terganggu dengan gerakkanku. Dinginnya AC kian menggigit, kurapatkan kancing jaket dan pashmina yang kukenakan. Pandangan ku lempar keluar, lampu-lampu berkelap-kelip di kejauhan. Seperti saling bekejaran.
Kereta sudah berjalan berjam-jam. Namun tidak seperti penumpang yang lain, mataku tak juga bisa kupejamkan. Suara anak sulungku masih terngiang-ngiang.
“Ibu harus ke Jogja.”
“Kapan Le?”
“Sekarang.”
Lah, sekarang?”
“Iya sekarang Bu!”
“Kamu kangen Ibu? Mbok  besok Sabtu to Le. Keadaan ibu masih belum memungkinkan. Hari Jumat Ibu masih harus control jahitan lagi di RS Fatimah.”
Kataku membujuk, belum dua minggu aku selesai operasi pengangkatan Rahim karena ada myom di rahimku. Sebenarnya aku tidak tega menyampaikan berita ini ada anak sulungku. Tapi apa boleh buat.
“Ini penting Bu.”
“Kalau diurus Mbak Ema gimana?”
“Koq Mbak Ema sih?”
“Lha maumu siapa?”
“Aku kan bukan anak Mbak Ema Bu?”
“Nanti Ibu bicarakan dengan Mbak Ema dulu ya Le. Besok sehabis control Ibu langsung ke Jogja.”
“Ouwh….”
“Kenapa?”
“Aku malu sama Mbak Ema?”
Lah sama kakak sendiri malu? Ada masalah apa to?”
“Yang penting Ibu ke Jogja saja. Kata Ustad secepatnya orang tua harus menghadap.”
“Ada masalah apalagi to Le? Kamu buat ulah apalagi? Kamu di skorsing lagi?”
“Ibu nanti akan tahu masalahnya. Yang penting Ibu ke Jogja.”
Lalu telpon ditutup. Telepon asrama yang kutelpon balik tidak aktif. Bekas luka jahitanku kembali terasa. Masih nyeri. Sebuah dilemma. Aku tak mungkin meminta ayahnya untuk ke Jogja, karena dia baru saja berangkat bekerja di luar pulau.
Beberapa bulan yang lalu, anak sulungku ini sudah kena skorsing 10 hari karena kesalahan yang dia lakukan. Saat itu aku marah besar, sampai-sampai aku tak mengijinnkannya untuk pulang walau dia harus berada di luar asrama. Karena aku tak pernah bisa membayangkan, apa yang sudah dia lakukan hingga dia kena skorsing sekian lama. Setiap kali pulang aku selalu berpesan, jadilah anak yang baik, tertib dan rajin.  Dalam doa-doaku aku tak pernah lupa mendoakan agar anakku ini menjadi anak yang sholeh dan bisa menjadi imam yang baik. Mengapa dia masih juga berulah. Tak jera dengan skorsing yang pernah dia terima.
Goncangan keras pada gerbong yang kutumpangi menghentak-hentak. Decit roda kereta  mencicit-cicit. Sambungan antar gerbong berderak-derak. Kereta mendekat sebuah stasiun, kemudian berhenti di salah-satu jalur. Sebuah pemberitahuan dari stasiun terdengar keras tapi tak jelas, kalah dengan suara kereta lain yang lewat. Aku tak bisa melihat nama stasiun dari tempatku duduk.
Stasiun relative sepi. Tak lagi kulihat pedagang asongan yang menjajakan dagangannya di stasiun itu. Sebuah pemandangan yang menurutku sangat mengasyikkan. Melihat ibu-ibu membawa dagangan di atas kepala beralas baskom. Berisi nasi bungkus, pisang rebus, kacang rebus, atau pleh-oleh khas daerah. Dengan suaranya yang saling beradu,  bersaing mencari pembeli. Yang ada sekarang hanya lalu lalang beberapa orang calon penumpang.
Pandanganku terhenti pada seorang pemuda tanggung berperawakan kecil, mengenakan celana pensil dan kaos hitam yang kebesaran. Persis Yassin, anak sulungku. Dia paling suka dengan penampilan seperti itu, walau beberapa kali aku protes. Tapi dia tak pernah mau berganti penampilan. Yassin. Anak sulungku ini kukirim sekolah asrama di Jogja. Dengan harapan dia bisa mendapat pendidikan yang baik. Disiplin tinggi, ilmu agama yang cukup. Mengapa justru di kota ini dia berubah? Aku seperti tak mengenali anakku sendiri.
Suara peluit kepala stasiun melengking. Kereta kembali bergerak. Roda kereta berderak-derak. Berjalan amat lambat rasanya. Aku ingin segera mendengar berita tentang Yassin. Saat telepon kemarin, kakakku yang selama ini kutitipi Yassin tidak mau bercerita apa-apa. Hanya berpesan bila sudah sampai setasiun harap menghubungi.
Masih sekitar 2 jam lagi sampai Jogja. Kulihat chat WhatsApp. Ternyata kakakku sudah bangun. Kukabarkan padanya kalau sekitar 2 jam lagi aku akan sampai Jogja. Dia hanya menjawab singkat. Kucoba pejamkan mata di waktu yang tersisa.
***
Ternyata kakakku sendiri bersama istri juga ponakanku Ema yang menjemput. Aku baru ingat bahwa ini hari Ahad. Maka beliau berdua yang dating menjemput karena mereka libur. Keluar setasiun, kulihat Ema melambaikan tangan padaku. Aku segera mendekat. Kupeluk mereka erat. Kuserahkan dua toples rempeyek dan bawang goring kesukaan mereka. Kami segera menuju tempat parker. Kulihat Ema cekatan mempersiapkan diri di belakang kemudi.
Sesampainya di rumah, aku langsung disidang. Tanpa mandi dulu, atau sarapan dulu. Diceritakannya kesalahan anakku hingga dia kena skorsing. Pinjam motor tetangga asrama kemudian kena tilang dan motor disita. Sering meninggalkan jamaah sholat shubuh. Masih punya banyak tagihan hafalan surat. Beberapa kali pergi keluar asrama tanpa ijin. Tertangkap tangan saat main game di warnet.
Termangu-mangu aku mendengar penjelasan kakakku. Kalau di rumah, dia anak manis. Tak pernah berulah, nurut apa kata-kataku. Ternyata di sini, di tempat yang jauh dariku, dia berulah. Aku  hanya bisa menarik nafas panjang. Mataku panas. Ingin rasanya menangis keras-keras mengurangi beban di hati. Namun di hadapan kakakku yang satu ini, aku tak boleh menangis. Dia tak suka melihat wanita yang cengeng.
“Masalah tak akan selesai hanya dengan menangis.”
Katanya waktu itu. Saat aku dating padanya dengan sebuah masalah. Dan itu menjadi pegangan, untuk tetap tegar, apapun yang terjadi. Jangan pernah meneteskan air mata di hadapannya. Akhirnya setelah bercerita panjang lebar, kakakku berkata.
 “Sudah sepantasnya bila dia dikeluarkan dengan kesalahan yang sebanyak itu.”
Keluar? Dikeluarkan?  Beribu kunang-kunang menyerbu pandanganku. Aku merasa seperti tanpa bobot. Melayang. Tanganku menggapai-gapai mencari pegangan. Aku takut terbawa angin. Udara yang sembribit sangat mungkin melemparkanku kemana saja. Seperti sepotong daun apokat yang jatuh terbawa angin. Terjerembab, terseok-seok dihempas angin, kembali terbang melayang, kemudian tersangkut di pohon kelor, jatuh luruh, terjerembab di dekat tempat sampah.
“Bulik…. “
Suara Ema membangun kesadaranku kembali. Dengan sekuat tenaga aku berusaha menguasai diri. Menguatkan hati. Mengusir beribu kunang yang sempat mampir. Kucoba kembali membuka mataku.
“Jadi dikeluarkan ya Mbak?” tanyaku pasrah.
“Seharusnya begitu Bulik.”
“Karena anakmu berjasa pada sekolah, maka hanya diskorsing.” Sahut kakakku.
Berjasa? Anakku berjasa apa?
“Maksudnya gimana Mas?”
“Karena anakmu termasuk tim inti futsal di sekolahnya, dan beberapa kali menyumbangkan medali emas pada sekolah. Maka hukuman yang didapat hanya skorsing 10 hari.”
“Jadi?” pertanyaanku menggantung.
“Tidak jadi dikeluarkan.” Kata Kakakku tegas sambil tersenyum.
Kembali aku terhenyak. Memandang Kakakku yang tersenyum dan mengangguk. Aku terpana.
“Bersyukurlah, masih diberi kesempatan.”
Kulakukan sujud syukur di tempat itu juga. Bersyukur atas karunia Alloh ayng tiidak terkira. Kupanjangkan sujudku. Mencium tanah tempat berpijak. Mencium tanah tempat kembali. Alhamdulillah, masih ada kesempatan.



Cerpen ini dimuat di majalah Mentari edisi Agustus 2016

cerita pendek


 PULANG

Oleh  Murmiyati Hadi Santoso
  
Yaa Roob…. Aku hanya bisa bersimpuh di hadapan-Mu. Mengadukan semua ini pada-Mu. Tak ada lain yang ingin kulakukan, selain berserah diri. Kuserahkan semua pada-Mu ya Robb. Hanya Engkaulah yang maha menyelesaikan masalah. Hanya Engkaulah yang mampu mewakili semuanya. Hasbunalloh wa ni’mal wakiil, ni’mal maulaa wa ni’mannashiir.
Air mata ini kian menderas. Aku tak mampu  membendungnya. Turun, jatuh membasahi sajadah dan mukena yang kukenakan. Aku terguguk. Kepala ini terasa kian berat. Ingus dari hidung  mengalir. Bayangan dua lelakiku berkelebat. Jae, lelaki dengan wajah bulat, mata bulat, bibir belah kepundung  dan perawakan  yang kokoh. Menatapku dengan pandangan tajam. Matanya  yang bulat kian membulat. Tanpa senyum sedikitpun. Bibirnya bergetar, namun dia berusaha untuk tetap tegar. Tangan kanannya memegang erat tangan kiri Rian. Lelaki kecilku yang lucu. Wajahnya tirus, kulitnya sedikit pucat, bulu matanya yang lentik selalu membuatku terpana. Kali ini dia datang dengan wajahnya yang sendu. Cuping hidung dan matanya memerah. Bibirnya sedikit terbuka. Digoyangkannya tangan Jae. Sayang, Jae tak bereaksi. Dia tetap tegak dengan pandangannya yang menuduh. Perih di ulu hati. Biasanya, dalam saat yang seperti ini aku selalu mendekap mereka. Memeluk mereka erat-erat. Kalau bisa, ingin meleburkan tubuh mereka dalam tubuhku.

***
“Ibu mau kerja apa? Bukankah di rumah Ibu juga sudah bekerja?”
Ah, pertanyaan polos seorang anak. Bagaimana aku harus menjawabnya? Tidak mungkin aku menjelaskan apa yang menjadi alasan utamaku pergi bekerja ke luar rumah. 
“Ya, ibu ingin bekerja yang menghasilkan uang banyak, agar kebutuhan kalian semua bisa tercukupi.”
“Kan Ayah uda kerja Bu? Kita bisa minta uang ayah koq.” Jae mencoba memberi alasan.
“Ibu mau pergi kerja ya? Biar bisa beli mainan buat Rian ya Bu?”
Tiba-tiba Rian nongol dan ikut nimbrung pembicaraan kami. Tangannya masih memegang sekop dan ember kecil  mainannya. Wajahnya celingukan melihat meja dapur tempatku menyiangi sayuran. Sementara Jae memperhatikan kerjaku sambil jemari tangannya mengetuk-ngetuk meja. Sesekali dia menatapku menunggu jawaban.
“Ehm…. bau acem nih…. Ayo cuci tangan dulu pake sabun ya Nak.” Kataku mengalihkan perhatian.
“Ibu beneran mau pergi kerja?” Jae mengulangi pertanyaannya.
“Iya.”
“Nggak boleh ditawar lagi?”
“Emang ada tawar menawar ya?”
“Kalau boleh ditawar sih.”
Aku tertegun mendengar perkataan jae. Kalau boleh ditawar. Ya…. Kalau boleh ditawar. Ah, ternyata anakku sudah semakin gede. Aku menatapnya sambil tersenyum menanggapi pertanyaannya. Kujawab dengan candaan. Walau aku tahu, dia tak sedang bercanda. Pertanyaannya serius. Seserius keinginanku untuk pergi.
“Kamu kayak orang gede aja bilang tawar menawar?”
“Jae udah gede Bu. Besok kalau Jae uda kerja, Ibu nggak usah kerja. Biar Jae aja.”
Untuk kedua kalinya aku tertegun. Jae, hari ini dia tampil istimewa untuk anak seusianya. Anak yang lainmasih berfikir mainan, dia berfikir kerja buat ibunya. Mataku memanas.
“Iya, tapi kali ini biar Ibu dulu yang kerja ya…”
“Terus kalau Ibu pergi, kami sama siapa dong?” Pertanyaan Jae menohokku.
“Sama Kakung, Uti, Ayah…. Juga Om Dani.”
“Terus yang ngurusi kami siapa? Masa harus Uti sih, kan kasian Uti, Bu.”
Aku menunduk, menatapnya lekat-lekat. Benar apa yang Jae katakan. Siapa yang ngurusi? Jadi aku adalah ibu yang jahat ya? Masa harus Uti? Kasian Uti?  Tapi haruskah aku bertahan dalam situasi ini? Situasi yang tidak jelas? Status yang tidak jelas? Hanya sebagai ibu dan menantu statusku jelas. Tapi sebagai istri? Aku adalah istri yang sudah ditalak suami dalam diam. Tak ada surat cerai, tak ada perpisahan. Karena talakku hanya di dalam kamar tidurku. Dan aku tak kuasa menguak aib ini pada siapapun.
“Kak Jae kan sudah besar. Kak Jae harus bisa ngurus diri sendiri.”
“Kak Jae bisa nyuci baju sendiri koq Bu. Nanti punya adik Jae cuciin juga.”
Haa, anak sekecil itu? Anak usia 12 tahun  sudah berpikir mau nyuci baju milik adiknya? Mataku memerah kembali. Alhamdulilah ya Alloh. Kau berikan aku anak-anak yang baik dan penuh perhatian. Aku berdiri, membalikkan badan pura-pura mencari sesuatu. Aku tak mau Jae melihat aku menangis. Biarkan dia melihat ibunya tegar dan perkasa.
“Kak Jae mau makan mie rebus” tanyaku mengalihkan perhatian.
“Adik paling juga mau Bu.”
“Baik, tunggu sebentar ya? Ibu buatkan dulu.”
Kujerang panci berisi air, kusiapkan wortel dan sawi.
“Kali ini nggak usah pake telur ya Kak? Ibu belum sempat belanja lagi.”
Kataku berbohong. Padahal telur habis dan belum belanja karena memang tak ada uang lagi buat belanja. Sudah tiga bulan ini Mas Edy tak memberiku uang bulanan. Belanja tergantung dari kiriman orang tuaku. Itupun kugunakan sehemat mungkin. Karena hasil kerjaku juga tak menentu dan tidak maksimal. Pekerjaanku sebagai jasa penerjemah on line tidak terlalu banyak membawa hasil.
“Besok kalau Ibu sudah kerja, kulkas pasti nggak pernah kosong lagi ya Bu?”
Ah … pertanyaan anak-anak, hanya makanan dan mainan yang ada dalam benak mereka.
“Yah, doakan aja ya Kak. Semoga Ibu segera dapat pekerjaan.”
“Amin.”
Sambil mengaduk-aduk mie pikiranku melayang. Kalau aku tak ada, apakah mereka akan sebebas ini meminta dimasakkan mie rebus? Kalau mereka sakit siapa yang akan memeluknya? Mengurusnya seperti kalau aku mengurus mereka?
“Laper Bu.”
Suara Rian di belakangku. Mendekapku dari belakang, mencium-cium dan menarik-narik daster yang kupakai.  Itu kebiasaannya kalau mencari perhatian dariku.
“Iya, nak. Ini Ibu buatkan mie rebus kesukaan kalian.” Kataku sambil menggamit tangannya.
Dia mendongak menatapku. Matanya tak berkedip.
Gendong.”
Rian merengek. Matanya menatapku menyipit. Aku membungkuk, mengelus kepalanya. Kutatap wajahnya yang hampir menangis. Aku tak boleh lemah. Aku harus kuat. Tenangkan dia tapi jangan digendong. Kuatkan hati. Kau pasti kuat. Suara hatiku berjejalan ambil suara. Tapi aku seorang ibu. Dia mau digendong. Biarkan dia jadi laki-laki yang perkasa, bukan laki-laki cengeng. Kuelus bahunya sambil tersenyum. Senyum yang kupaksakan karena cairan bening ini hampir jatuh. Aku mendongak sebentar, kukerjapkan mataku. Menghapus cairan yang berjejalan ingin keluar dari sudut mata. Aku berjongkok di depannya.
“Anak pinter dan sudah gede masih minta gendong?” kupeluk Rian. Dia balas memelukku erat. Seolah tak rela melepaskan pelukannya padaku.
Di sisi meja, Jae melihat kami tanpa suara. Pandangannya menuduh. Aku teriris. Diamnya Jae justru lebih menusuk daripada segala perkataannya.
“Ups… Ibu ambilkan mie buat kalian ya?” aku berdiri menjauh dari Rian.
Mengambil mangkuk dan menuang mie yang sudah masak. Dua lelakiku bersiap diri di kursi. Seperti biasa, menungguku menyodorkan makanan buat mereka. Pandangan Jae tak pernah lepas dariku. Apapun gerakanku selalu diikuti tatapannya. Risih aku dibuatnya.
“Ada yang perlu Ibu bantu Kak?”
Jae menggelengkan kepala. Aku tahu, Jae tak suka dengan pertanyaanku. Kusodorkan dua mangkuk mie tanpa telor pada mereka berdua.
“Ibu tak makan? Ibu makan bareng Jae aja ya?” Jae memandangiku sambil menyodorkan mangkuknya. Aku menggeleng.
“Ibu masih kenyang.” Kataku berbohong, padahal sejak pagi aku belum makan, hanya minum dua gelas air putih plus madu dua sendok makan.
“Tapi Ibu sejak pagi belum makan.” Kata Jae lagi.
Aku menjawabnya dengan senyuman. Berharap senyum itu bisa menenangkan hatinya.  Rian makan dengan lahab. Jae kelihatan kurang bersemangat.
“Mau tambah cabe Kak?” tanyaku menawarkan.
Jae menggeleng. Tak bersuara. Lalu semua jadi sunyi. Sunyi sekali.  Hanya suara cicak berdecak di dinding sambil berkejar-kejaran.

***
Tengah malam telah lewat. Waktu menuju dini hari. Deru gesekan roda kereta terdengar jelas di telinga. Sebentar lagi pasti akan melintas di dekat kamar yang kami huni. Mereka masih nyenyak. Hanya satu dua yang bergerak-gerak menghalau nyamuk yang berdenging di telinga. Kulihat Shoma teman baikku menggeliat. Aku bergeser. Memberi sedikit ruang agar dia lebih bebas meliukkan tubuhnya yang bulat.
Kusandarkan punggungku di dinding yang dingin. Jemari tanganku masih bergerak menjalankan butir-butir tasbih kecil yang biasa kugunakan sebagai gelang tangan. Rasa sesak di dada sudah mereda. Sebuah keputusan sudah kubuat. Sudah bulat. Bahwa masih ada yang lebih dipentingkan daripada uang dan harta. Masih ada yang lebih berharga dari semuanya. Mereka adalah harta yang tak ternilai harganya. Mengapa aku harus tega melepasnya begitu saja. Menyingkirkan kepentingan pribadi demi mereka. Aku pasti bisa. Harus bisa. Demi mereka aku harus mampu melakukan semuanya.
Perlahan aku bangkit. Kulepaskan mukena yang basah oleh air mata. Kukemasi barangku yang tidak seberapa. Aku harus menebus kesalahanku. Tak ada jalan lain.  Hanya jalan ini satu-satunya yang bias kutempuh.
Benar kata wali kelas Jae waktu itu.
“Apakah sudah dipikirkan masak-masak? Menjadi seorang ibu harus bijaksana. Mementingkan diri sendiri hanya akan menuai sesal. Mohon dipertimbangkan kembali.”
Namun aku tak bergeming. Tetap dengan niatku untuk berangkat ke Taiwan. Kutitipkan masalah Jae padanya. Karena aku percaya beliau bisa mengendalikan Jae. Kata-katanya yang bijak. Senyumnya yang lembut membuatku ingin bersandar di dadanya. Tiba-tiba saja aku telah berada dalam pelukannya. Tersedu-sedu.
 Sayang. Sampai bulan ketiga ini aku masih berada di penampungan, belum ada harapan kapan berangkat. Sementara uang saku pinjaman dari ayah sudah menipis.
Aku segera mandi. Bersiap lebih pagi agar bisa mengejar kereta pagi. Sedikit berhias sekedar mengurangi wajah pucat.
“Mau kemana Mbar? Pagi-pagi sudah rapi?”
Shoma bertanya melihatku bersiap. Matanya masih belum terbuka sempurna.
“Pulang.” Jawabku singkat.
“Haa… Pulang?” Shoma terperanjat.
“Ya, anak-anak lebih membutuhkanku, bukan uangku.”

                                                                                                                                Soga 4, akhir Nov 2014
Kado cantik buat buah hatiku, Mbak Tika, Mas Faid dan Dik Ima


Cerpen ini dimuat di majalah Mentari edisi Januari 2015 



cerita pendek

 Izinkan Aku Bertaaruf Denganmu

Oleh : Murmiyati

Staf pengajar di SMP Muhammadiyah 8 Yogyakarta

Fabiayyi aalaa i robbikumaa tukadzdzibaani…. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
Tergetar hatiku mendengar ayat itu dibacakan. Ingatanku melayang pada almarhumah ibu. Wajahnya yang jernih, meneduhkan. Usapan tangannya di rambutku, selalu membuatku tak mampu berkutik. Apalagi saat beliau memintaku duduk di samping pembaringannya. Menyerahkan padaku, Al Qur’an yang bisaa beliau baca dan  memintaku untuk membacakan ayat-ayat itu. Aku duduk tepekur di sampingnya, beliau mengelus-elus rambutku.
“Menantu ibu akan bahagia hidup bersamamu, kau pandai membuat ibu bahagia.”
Aku hanya mengangguk. Namun rasa nyeri menjalar dimana-mana. Ibu tak tahu kalau aku tak lagi bersama  Iffa. Gadis yang selama ini menjadi dambaan ku, juga ibu. Iffa telah memilih jalan sendiri. Menjauh dariku, lepas dari hidupku.
Aku menunduk bayangan wajah ibu, mengharu biru hatiku. Aku kembali larut dalam lantunan Ar Rahman.
“Acara yang selanjutnya adalah sepatah dua patah kata dari Bapak Maskur dan Bapak Hadi selaku asesor, waktu dan tempat saya serahkan sepenuhnya.”
Mas Hadi, teman asesor ku memandangku dan tersenyum, memberi kode agar aku yang berbicara terlebih dahulu. Dengan memperbaiki duduk, aku tersenyum dan mulai menyapa.
Assalamualaikum warohmatullahi wa barokatuh. Terima kasih atas  sambutan yang telah diberikan. Saya tidak menyangka bahwa di SMP Cluring ini saya akan disambut oleh bidadari-bidadari cantik.” Arah pandangku menyapu seluruh ruangan dan terpaku pada seseorang yang duduk di sudut kanan. Jantungku berdegub lebih kencang. Kurasakan wajahku memanas. Aku segera mengalihkan pandanganku, namun sia-sia. Seperti ada magnet yang kuat yang menarikku untuk tetap melihat ke sudut kanan. “Kami berdua disini mendapat tugas untuk melakukan visitasi, mencocokkan antara berkas yang dikirim ke BAP dengan borang yang ada. Semoga kami dapat melaksanakan tugas ini dengan baik. Harapan kami,  kita dapat melakukan kerjasama yang baik. Sehingga apa yang kita harapkan semua bisa berjalan dengan lancar.”
“Dan ke depan karena Pak Maskur sudah mengatakan banyak bidadari cantik disini, siapa tahu ada yang…” suara Mas Hadi menggantung tak dilanjutkan.
Hadirin menanti kelanjutan kata-kata Mas Hadi. Aku tersindir. Memandang Mas Hadi penuh arti. Ah, tahu aja dia dengan hatiku yang sedang berbunga-bunga. Pandanganku kembali ke sudut kanan. Hanya dia yang tak menatapku. Yach siapa sih yang mau menatap pria setengah abad  dengan pandangan tertarik? Walau aku aku masih gagah dan tampan? Dan juga mapan? Tetapi aku memang harus tahu diri.
Wajahnya sedikit menunduk, aku melihat kegelisahan di wajahnya. Duduknya tak nyenyak. Sebentar-sebentar mengingsut. Tangannya yang ada di pangkuan bermain sendiri. Dia hidup dengan dunianya sendiri. Hanya tubuhnya yang ada disini. Hati dan pikirannya entah melayang kemana. Dalam  pandanganku dia semakin cantik saja. Semoga masih ada kesempatan buatku. Setelah sekian lama aku menutup diri, baru kali ini aku seperti mendapatkan kembali secercah sinar pengharapan.
Visitasi hari ini berjalan lancar. Saat adzan Ashar berkumandang, lima standart telah selesai. Leganya. Satu hari terlewati. Ini adalah hari pertama visitasi.
Ketika para petugas datang dengan membawa borang, seperti bisaa kami selalu menanyakan siapa namanya dan mengajar mata pelajaran apa.  Aku memintanya untuk menunjukkan perangkat mengajar yang telah dibuat juga borang yang dibutuhkan sebagai coordinator standar. Saat dia menunjukkan perangkatnya, dia menjelaskan dengan pelan dan bahasa yang tertata rapi.  Tubuhnya semampai, kulitnya bersih, suaranya lembut, merdu. Kacamata yang digunakannya memberi kesan sedikit angkuh.  Apalagi dia tipe orang  yang tak banyak bicara.
Di ruang Kepala Sekolah mataku menelusur, melihat daftar nama guru yang terpampang di dinding. Ternyata namanya Ida, guru Bahasa Inggris. Lahir tanggal 20 Januari 1973. Status TK.
***
“ Merenungkan yang tadi Mas?”
Mas Hadi bertanya setelah lama berdiam diri menikmati perjalanan. Jalanan menanjak Mayang Kumitir baru mulai. Aku sengaja meminta Mas Slamet, sopir andalanku untuk membuka jendela lebar-lebar, menikmati udara gunung walau  sudah sedikit tercemar.
“Yang mana Mas?” sahutku sambil tersenyum. Kami saling menyapa dengan sapaan tidak resmi karena kedekatan kami sejak di bangku kuliah.
“ Yang di sudut atau yang membaca Qur’an?”
“Ah… Sampeyan  sepertinya tahu apa yang saya pikirkan Mas?”
“Tadi Mas Maskur terpesona menyimak ayat yang dibacakan, tapi pandangan tak lepas dari sudut kanan. Hahaha .”
“Wah, ternyata Sampeyan jeli juga.” Kami tertawa bersama.
“Yang disudut status TK Mas.”
“Tahu darimana?” Hehe padahal aku juga sudah tahu.
“Wah pura-pura nggak tahu? Tadi di Ruang KS Mas Maskur asyik menelusuri identitas guru. Hahaha”
Salah tingkah aku jadinya. Ternyata Mas Hadi mengamati semua yang kulakukan. Padahal aku sudah berhati-hati dan menahan diri.
“Kalau ada getar, harus ditindak lanjuti. Menunggu akan jadi aus dan lupa lagi lho.” Katanya menggoda.
Ada benarnya apa yang dikatakan Mas Hadi. Harus segera ditindaklanjuti. Tapi aku baru melihatnya sekali. Belum tahu siapa dia sebenarnya. Mungkin status yang terpajang hanya karena dia PNS dan bersuami PNS. Jujur hatiku tergetar melihatnya pertama kali. Ada sesuatu yang menarikku untuk menatapnya tanpa henti. Sesuatu yang tak bisa kutolak atau kuhindari.
“Kok malah merenung lagi. Ayo action.”
“Berarti benar kan? Ada yang membuat bergetar?” katanya lagi menegaskan.
Aku mengangguk.
Jalanan yang kami lewati kian menanjak dan berliku. Pedagang pecel di kiri kanan jalan menawarkan dagangannya. Beberapa pengunjung berhenti menikmati pecel dan udara gunung yang sejuk, pemandangan alam yang masih alami. Beberapa penduduk yang menjadi pemandu jalan tampak mengacung-acungkan tangannya. Memberi tahu keadaan jalan sekaligus mengais recehan yang dilemparkan pengguna jalan. Hari sudah menjelang malam. Suasana kian temaram. Kendaraan melaju, ingin segera mencapai rumah.
***
Pagi yang cerah, secerah hatiku. Banyak yang kupikirkan semalam, semua membuatku lebih bersemangat untuk melangkah. Walau harus menepuh puluhan kilo untuk mencapai lokasi visitasi. Langkahku menjadi lebih ringan, maka ketika Mas Slamet datang aku sudah siap.
“Wah saya kesiangan ya Pak?” katanya merasa bersalah.
Melihat mobil sudah di luar dalam keadaan mesin hidup. Dia segera mengambil kanebo untuk melap mobil.
“Tidak Met, saya hanya ingin bersiap lebih awal karena perjalanan yang akan kita tempuh lumayan jauh.”
“Kita berangkat sekarang Pak?”
“Ya nunggu Mas Hadi dulu, daripada berangkat sendiri-sendiri lebih baik berdua kan?”
“Ya iyalah Pak, berdua lebih enak dan lebih baik. Hahaha.” Ada nada berbeda dalam tawanya kali ini.
“Maksudmu? Kenapa kau bilang berdua sambil tertawa? Bukankah kemarin juga berdua?”
“Hahaha lebih enak lagi berdua sama…”
“Sama siapa?” tanyaku penasaran mendengar kata-katanya.
“Sama… “
“Wah bicaramu nggak jelas Met…”
“Itu lho Pak, berdua sama yang dibicarakan Pak Hadi kemarin hehe”
Nguping rupanya kau Met… kau tahu apa tentang dia?”
“Daripada kemana-mana cuma berdua sama saya kan lebih baik bertiga kan Pak. Saya rela jadi obat nyamuk.”
“Walah Met, Met… aku juga baru lihat sekali, kemarin. Aku juga belum yakin kalau dia masih sendiri. Semoga saja hari ini aku  beruntung  masih bisa bertemu lagi hahaha.”
“Wah…  makanya Bapak pagi-pagi sudah siap, ternyata ada maunya. Semoga hari ini bertemu lagi. juga untuk hari-hari kedepan Pak.”
“Itu yang susah Met. Hari ini hari terakhir visitasi.”
“Minta nomor telponnya saja Pak. Beres.”
“Beres gimana?”
“Kan bisa terus telpon, SMS, WA, atau BBM an Pak?”
“Itu kalau kamu Met.”
Betul juga kata Slamet, harus bisa mendapat nomor HP nya. Tapi bagaimana caranya? Ah … pasti ada cara lain yang lebih cantik. Aku percaya. Kalau aku benar-benar menginginkan pasti akan ada jalan.
Tak lama kemudian Mas Hadi datang. Kami kemudian meluncur ke SMP Cluring. Sepanjang perjalanan kami mempersiapkan diri. Mendalami kembali petunjuk dan hasil visitasi hari kemarin. Sedikit berdiskusi tentang kondisi sekolah dan borang yang kami teliti.
Hari ini kami rencanakan sebelum dhuhur selesai. Melihat kesiapan sekolah dalam mempersiapkan visitasi, prediksi kami akan bisa selesai sebelum waktunya.
Ketika kami sampai di lokasi, semua sudah tertata rapi. Petugas akreditasi sudah siap di tempat. Mereka menyambut kami dan meminta kami untuk melakukan foto bersama. Semoga dia juga ikut berfoto ria kataku dalam  hati.
Hai…  kau datang kemari untuk tugas visitasi, bukan untuk melirik sana sini, kata hatiku yang lain. Aku tidak melirik, tapi menatapnya dan mencari tatapan matanya. Biarkan aku menikmati bahagiaku kembali. Benarkah dia akan menjadi bahagiamu? Apakah dia mau denganmu? Bukankah kau belum tahu pasti siapa dia dan bagaimana statusnya. Aku akan mencari tahu. Biarkan aku menggapai bahagiaku.
                “Kita mulai sekarang Pak?” Kepala Sekolah bertanya padaku.
                “Baik, lebih cepat lebih baik.” Kataku sambil melangkah menuju ruang yang sudah dipersiapkan.
Kulihat beberapa petugas akreditasi bersiap di depan borang yang sudah dipersiapkan dengan rapi. Dua orang guru duduk dekat dengan mejaku. Salah satunya Ida. Dia sibuk dengan catatan yang ada ditangannya. Tak sedikitpun dia melirikku, apalagi menatap.  Seolah-olah kami tak pernah ada. Angkuh. Itu kesanku. Tapi justru keangkuhan itulah yang membuatku lebih tertantang untuk bisa menaklukkannya. Semoga Alloh meridhoi.
Masih tiga standar yang harus kami cocokkan antara data yang masuk dengan borang yang ada. Standar pengelolaan, berjalan mulus. Tak butuh waktu panjang saat menangani standar ini. Petugasnya cukup komunikatif dan menjawab setiap pertanyaan dengan sigap dan tangkas. Dibantu beberapa teman yang siap menyiapkan borang yang dibutuhkan. Walau sebenarnya borang itu sudah tertata rapi di ruangan yang digunakan visitasi.
Standar berikutnya tak terlalu banyak berbeda karena borang sudah siap ditempat. Terakhir standar penilaian, standar yang paling berat pertanggungjawabannya karena menghimpun hasil kerja seluruh guru.  Pada standar ini lebih cepat lagi selesai karena petugas telah menyiapkan seluruh borang tanpa kecuali. Semua diberi sampul yang menarik walau selintas menimbulkan kesan bahwa itu barang baru semua. Tapi ide cantik ini membuat semua menjadi lebih cepat dan mudah dalam pengecekan borang.
Kumandang adzan dhuhur terdengar saat kami menyelesaikan tugas. Lega. Tugas telah terselesaikan, kami tinggal menyusun laporan dan melaporkan hasinya.
Acara penutupan dilaksanakan seusai sholat dhuhur. Tak banyak kesan dan pesan yang bisa kusampaikan. Mas Hadi yang lebih banyak menyampaikan hal itu. Aku berterima kasih sekali kepada Mas Hadi.  Karena dengan spontan dia   mengundang  keluarga besar SMP Cluring untuk berkunjung ke kota kami, sebagai balasan karena telah menerima kami dengan  baik.
“Kami menyambut baik undangan Bapak, karena kebetulan kami akan melaksanakan refreshing minggu depan ke Pantai . Kami berharap Bapak tidak terkejut karena kami datang satu bis.Hahaha…” Kepala Sekolah langsung menyambut tawaran Mas Hadi.
“Kalau di rumah saya terlalu sempit, bias ke rumah Pak Maskur juga. Rumahnya seluas lapangan bola.  Kebetulan rumah kami berdekatan.” Mas Hadi kembali menawarkan. M
Kami semua tertawa, mereka kasuk kusuk mengiyakan tawaran kami.
***
Ternyata ini bukan basa-basi. Mereka benar-benar datang satu bis. Aku menawarkan diri untuk menjadi pemandu. Teman-teman Ida memberi kesempatan padaku untuk duduk di sampingnya. Pucuk dicinta ulam tiba. Kucuri kesempatan itu untuk mendekat pada Ida.   Aku bukan remaja yang mudah jatuh cinta kembali. Tapi  tak kuingkari kalau berulang-ulang dadaku berdebar kencang.
Aku berusaha menjadi pemandu yang baik. Menjadi penunjuk jalan menuju pantai. Mencari tempat belanja oleh-oleh. Terakhir singgah di Masjid Besar untuk  melaksanakan Sholat Maghrib. Suasana masjid yang ramai membuat kami tidak bisa serentak melaksanakan sholat. Saat aku keluar, kulihat Ida duduk di serambi dekat tangga, sendiri menunggu beberapa tas yang ada di sampingnya.
“Lelah Bu?” tanyaku.
“Hehe, iya Pak.” Sahutnya sambil tersenyum. Dimataku senyumnya manis sekali saat ini.
“Kalau lelah, pulang besok saja Bu. Nginap disini dulu.”
“Hehe… ”dia hanya menjawab dengan tawa kecil, wajahnya tersipu.
“Tapi kasian keluarga juga ya, anak-anak dan suami pasti menunggu.” kataku selanjutnya.
“Ah enggak Pak.”
“Ooo, jadi sudah pamit kalau tidak pulang?” ucapku mencoba mencandai.
“Bukan begitu Pak, saya hanya tinggal bersama kakak. Jadi nggak ada yang menunggu.” Ida mencoba memberi penjelasan.
“Maafkan saya kalau menyinggung.” Tulus aku meminta maaf. Jangan sampai tersinggung, kataku dalam hati.
“Tidak apa-apa Pak. Sudah bisa.” Pandangannya menerawang, jauh.
“Ehm… boleh saya berkata sesuatu?”
Dia diam. Sepertinya tak mendengar pertanyaanku, Aku tak sabar ingin mengatakan perasaan hatiku.
“Izinkan saya bertaaruf denganmu.” Kataku pelan tapi penuh makna.
Kepalanya  tertunduk. Tangannya saling menjalin. Gerakannya gelisah. Berarti dia mendengarkan semua ucapanku.
“Saya hanya mencari tulang rusuk yang hilang. Saya masih sendiri. Mungkin tulang rusuk itu kau yang memiliki dan menyimpannya.”
Kuberanikan diriku berkata apa adanya.  Aku jujur berkata, itu suara hatiku. Harapanku, aku tak kehilangan kesempatan.
“Maafkan saya kalau terlalu berani, tapi tolong dipikirkan. Mungkin kamu merasa saya tak pantas. Tapi saya tak pandai berbasa basi.”
“Ini kartu namaku, kau boleh menyimpannya. Saya tunggu jawaban walau hanya lewat SMS.” Kubuka  dompet, kuserahkan kartu namaku. Hanya itu yang bias kulakukan.
Beberapa teman Ida mendekat. Mereka bertanya basa basi tentang hasil akreditasi. Bahkan ada yang memintaku untuk datang kembali ke Cluring.
“Visitasi jilid dua Pak.”
“Lain saat saya berkunjung secara pribadi ke Cluring.”
“Benar Pak? Janji ya Pak. Kami setia menanti.”
Aku berjanji untuk datang kembali. Setelah jawaban itu ada. Untuk visitasi jilid dua (seperti kata mereka).
“Ayo kita segera kembali ke bis, biar masih ada waktu buat istirahat sampai di rumah.” Coordinator perjalanan meminta kami untuk segera berkumpul kembali.
Bis kembali meluncur, kupesan pada sopir bis untuk menurunkanku di Paku Sari walau aku lebih cepat bila turun di Glagah Kembar. Aku ingin berlama-lama dengan Ida. Yang kini lebih diam. Kucoba untuk mengajaknya berbincang. Kupesankan kembali kalau aku sungguh menunggu SMS darinya. Dia hanya mengangguk. Menjelang sampai Paku Sari aku berpamitan pada mereka.
“Terima kasih atas kunjungannya, jangan lupa untuk tetap menjalin tali silaturahmi. Tetap berkabar  apalagi kalau ada kegiatan di kota ini. Tolong simpan nomor HP saya. 0852224273800.” Semua riuh menjawab sapaanku. Aku bangga. Semoga kami tetap bisa berteman dengan baik.
Sampai di Paku Sari aku turun. Kulambaikan tanganku. Setengah hatiku tertinggal bersama mereka. Setengah hatiku berharap akan masa depan yang lebih baik. 
                Din … din… sebuah angkot mendekat di depanku. Sopirnya melongok.
“Unej Pak?” tanyanya penuh harap.
Kulihat dua penumpang duduk di belakang. Naik angkot rasanya lebih baik. Sudah lama aku tak pernah naik kendaraan umum ini. Sejak kesibukanku makin menjadi, kendaraan pribadi menjadi lebih penting. Sopir masih menunggu, aku mengangguk. Melangkahkan kaki naik dan duduk di sisi kiri. Seorang penumpang mengingsut duduknya memberiku tempat yang lebih longgar. Aku tersenyum padanya dan mengangguk. Dia membalas dengan senyuman.
Unej. Ya, sampai Unej aku bisa jalan kaki ke rumah, atau naik becak yang banyak berjajar di depan Unej dan sepanjang jalan Jawa. Terbayang dalam anganku, naik becak berdua, berimpit dengan Ida. Lalu dia berteriak ketika kutunjukkan seekor ulat kecil dipangkuannya. Seperti saat ini seekor ulat kecil tiba-tiba menempel jatuh di paha kananku. Aku menjentiknya.  Haha… aku tersenyum sendiri. Sudah sedemikian jauh anganku mengembara.
HP di saku bergetar. Sebuah SMS masuk. Nomor yang tidak kukenal. Hanya sebuah sapaan.
“Pak…”
Mungkinkah ini Ida? Tak ada pengenal apapun. Aku penasaran.
“Ya.”
Kulayangkan balasan secepatnya. Dadaku berdegub lebih kencang. Ya Alloh, semoga ini Ida.
“Ida, Pak.”
“Alhamdulillah, terima kasih Ida.”
 Kuusap wajahku dengan kedua tangan. Ungkapan syukur mengalir di bibirku yang bergetar. Aku terguguk dalam hati. Semilir angin malam ini. Memberi kesejukan baru. Menumbuhkan semangat baru. Kurasakan betapa nikmat Alloh yang bertubi-tubi.
***
                                Yogyakarta, 24 Sept 2014
Kado ulang tahun pernikahan buat cintaku. 

Cerpen ini pernah dimuat Majalah Mentari edisi November 2014

Saturday, March 3, 2018

MENGGAPAI CAKRAWALA

 Alhamdulillah novel terbaru Menggapai Cakrawala karya Imung H Santoso telah terbit.




Sat... turun ke lobi... kutunggu...!
Sat... Sat... aku berdebar membaca sapaan itu. Hanya seorang yang memanggilku dengan sapaan itu dan itu tak akan pernah bisa kulupakan. Terbayang jelas wajah pemilik sapaan itu, tak pernah bisa kusingkirkan. Sebuah nama terukir di kalbu. Ini pasti kau... aku yakiu itu kau... Ahhh... tidak... ini hanya ilusiku belaka karena kerinduanku yang tak tertahankan. Tapi aku tak ingin kehilangan harga diri bila harus mencarinya, menemuinya. Sat... sapaan itu kembali terngiang-ngiang di telingaku. Berulang-ulang kututup telingaku dengan kedua tanganku. Tak kunjung reda. Gila... sudah gilakah aku?